May, 2007Archive

May 12

7 mei 2007
Kali ini tanpa puisi. Jadi pagi ini aku belajar sesuatu, bahwa saat semua sudah kita lakukan, hal terakhir dan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah tidak melakukan apa-apa (thanks for this quote, mas bee!) Yeah.
I’m talking about my scholarship. Satu setengah tahun lalu aku sempat merasakan suatu kekecewaan. Aku apply beasiswa dari sebuah yayasan Jerman di Indonesia. Sudah sampai tahap interview (baru pertama kalinya aku interview pakai bahasa Inggris!) tapi di suatu malam yang melelahkan aku menerima surat. Awalnya saja sudah berbunyi ”sorry..” dan aku sudah tahu apa isinya. I failed.
Dan beberapa hari yang lalu, iseng-iseng aku mendaftar untuk program beasiswa di negara favoritku kalau lagi musim piala dunia, Belanda. Isinya tentang kesempatan kuliah di sana. Food engineering. Katanya biaya fifty-fifty tapi gak papa lah. Namanya juga nyoba. Dan malam itu aku buat CV yang super narsis. Jual diri donk pastinya. Kata pak mus dalam beberapa hari – sabtu, minggu dan senin – kami bakal dihubungi via e-mail. Sabtu sore aku cek e-mail. Ada yang baru. Kubuka inbox. Friendster – You have received a friend request from tinahtinah, Friendster – You have received a comment from Mesra – Friendster. Friendster again. Aku pulang hanya dengan flashdisk yang berisi lecture MKL. Minggu pagi. Ada yang masuk! Tentu saja Friendster – Today is W-Cha’s Birthday!. Damn. Aku putus asa. Dan semakin putus asa waktu minggu malam jam setengah sepuluh ngecek e-mail di warnet mas inou. Masih W-Cha. Sudahlah, pikirku.
Namanya belum nasib ya belum nasib.
Senin pagi, pagi ini aku belajar tentang Tuhan yang mampu melakukan semua lebih dari yang kupikirkan maupun kubayangkan. Apalah itu artinya.
Gak tahu kenapa kok dari pagi rasanya tensiku naik. Mau berangkat kuliah, laila datang minta diajarin mbuat perhitungan laporan. Lalu datanglah pak Bardi yang ngasih tugas baru. Optimasi. Ada-ada aja. Dan tutorial. Seperti belum lengkap kecewaku, aku masih sempat buka yahoomail dan ngecek e-mail. Ada 24 messages di inbox, dan sudah bisa ditebak. Belum ada nama baru, bahkan pesan yang paling atas masih milik W-Cha. Kesal, ku-delete semua message, dan baru menyesalinya ketika ada satu file lecture dari pak MF yang belum sempat ku download. Sudahlah. Masih ada Febri yang bisa dimintain kopiannya.
Tidak ada harapan. Lewat papan depan KM masih tertempel tulisan pak Muslikhin yang memberitahukan semua pendaftar beasiswa ke Belanda untuk sering-sering mengecek e-mail, siapa tahu ada salah satu yang dikirimi e-mail dari Sir De Jager, The Hague University. Waktu Herna ma Rina baca itu, sengaja kupalingkan muka. Sore-sore itu aku nemuin pak Agus, mau konsultasi laporan penelitian. Malah dimintain file yang kemarin. Trus ke Chain coz dataku ada di e-mail. Opening yahoo beta. Welcome christinrin, you have 2 new messages in your inbox. Dan kubukalah itu inbox. Terbaca satu nama asing. De Jager. Penolakan, pikirku. Sudah terbayang kata-kata pertamanya, ”we’ve received your CV and we have been considering it but sorry…..”
Tapi apa salahnya dibuka. Terbaca,”Dear Christin Rina Ratri, we have received your CV…….you are one of our candidates to study in The Hague University, Den Haag……….next year…….please reply to ensure us you are reachable in next Tuesday or Wednesday….”
Oh, God. Aku gak percaya. Biarpun aku belum melewati tahap short interview yang Sir De Jager bilang, tapi entah kenapa hatiku mengatakan kalau inilah jalanku, dan bukan DAAD.
Hatiku bertanya apa yang membuat mereka menerimaku, mungkin karena narsisme ku yang tersirat lewat CV, atau apa. IP, gak mungkin. Cuma 3,01.
Yeah, mungkin karena ikatan batin sesama Netherland soccer squad die-hard.
Namanya udah nasib ya udah nasib.