IS IT ME ???
“ Yang harusnya hitam sudah tak ada lagi.”
Tidak. Hitam itu lambang kematian.
“ Tapi bagiku hitam itu hidup. Hidupku.”
Berarti kau hidup dalam kematian.
“ Apapun itu, aku hanya tahu satu hal: ketika hitam itu diambil dari hidupku, tak ada seorangpun yang bisa membuat semuanya semua sama seperti dulu. “
Harusnya hidup itu berwarna. Pasti indah.
“ Ya, warna hitam. Banyak warna hitam. Pasti indah. “
Tidak, hitam itu lambing kematian.
“ Terserah. “
Banyak hal yang tidak aku mengerti tentangmu. Makhluk aneh.
“ Terserah.”
Kadang hidup itu terlalu rumit untuk hanya digambarkan dengan warna.
“……….”
Bagaimana dengan warna keemasan? Dulu kau suka warna itu.
“ Tak pernah. Dulu, sekarang, dan kapanpun hanya ada hitam.”
Coba berpikir warna lain.
“ Tidak bisa. Tak akan bisa.”
Tapi kau harus berwarna.
“ Ya, warna hitam.”
Terserah kau saja. Lalu apa yang kau inginkan sekarang?
“ Aku ingin semua kembali seperti dulu.”
Walau yang dulu itu penuh wajah kematian?
“ Ya.”
Walau air mata itu harus terus mengalir?
“ Ya. “
Walau kau harus lenyap dihempas badai?
“ Aku tak yakin akan seburuk itu.”
Tapi kau sudah melihat apa yang terjadi dulu. Kau hanya bisa mengalirkan air matamu dan membiarkan hatimu dirobek-robek prahara.
“ Aku menikmatinya.”
Kau bohong! Kau bahkan tak tahu apa yang kau rasakan.
“ Ya, memang…”
Kau tak bisa mengelak lagi! Menyerahlah……
“ Terlalu sulit untuk membiasakan diriku tanpa hitamku. Tanpa hidupku.”
Itu hanya pelarianmu kan?
“ I’ve told you I enjoyed it.”
Sekali lagi kau berbohong.
“ Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus berpura-pura kalau aku tak pernah merasakannya?”
Tidak juga. Kau tidak harus berbohong
“ Lalu apa maksudmu?? Kau hanya mempermainkan perasaanku !!!! “
Mengertilah satu hal. Warna hitam iu telah terlalu lama menutupi kepingan-kepingan berwarna dari hidupmu. Pelangi yang selalu tertutup mendung tak akan pernah terlihat indah, seberapapun cantiknya dia.
“ Tapi memang hidupku seperti itu. Lebih baik dengan warna hitam. “
Dan sejujurnya kau ingin melepasnya, bukan? Kau hanya takut ada angin yang membawamu pergi. Kau hanya takut matahari melukaimu. Kau juga takut kecewa dengan warnamu sendiri. Ya kan?
“ kalau aku boleh jujur….kau memang benar.’
Lalu?
“ Aku takut keluar dari tempat yang nyaman ini – yah, setidaknya menurutku nyaman. Aku suka dengan sisi hitamku…yah, walaupun seperti katamu itu hanya kamuflase. Sesungguhnya aku membohongi warnaku sendiri..”
Akhirnya kau tahu.
“ Terlalu sulit bagiku untuk merasa nyaman dengan warna lain. meski suram, toh warna itu membuatku merasa lebih baik. “
Kamuflase lagi.
“ Aku ingin warna lain juga, sebenarnya…aku jujur…aku ingin…”
Lalu apa masalahnya?
“ Bagaimana aku menyadarkan diriku sendiri untuk berkata bahwa warna hitam itu harus dihapus dari hidupku?”
Bukan dihapus. Jangan. Yah…katakana pada dirimu seperti itu. Ucapkan dengan hatimu.
“ Semudah itukah? “
Sebenarnya tidak, tapi layak dicoba.
“ Lalu aku harus berwarna apa?”
Apapun yang kau suka.
“ Please….bantu aku.”
Warna apa yang kau ingin jadi yang terindah?
“ Aku tidak tahu pasti. Mungkin warna yang bisa membuat aku sedikit lebih bersinar..walau diriku sendiri takkan pernah menampakkan sinar.”
Dulu kau bersinar. Kau tak tahu itu kan? Indah sekali. Sinar yang membuat siapapun akan melihatmu seperti malaikat yang menyinari seisi dunia.
“ Akukah itu? “
Ya. Itu kau.
“ Tapi sekarang aku hanya menjadi warna hitam.”
Karena kau memilih itu.
“ Bukan aku yang memilih! Keadaan yang membuatku menjatuhkan pilihan. “
Tanpa kau ingin melakukannya.
“ Ya…aku menyukainya…tapi aku tak menyangka bahwa sinarku jadi pudar karenanya…”
Mungkin memang jawaban, tapi kau tak tahu bagaimana memperlkaukan dia menjadi warna yang bisa membuatmu bersinar.
“ Mungkinkah bersinar dengan sesuatu yang hitam?”
Ya, kalau kau tahu bagaimana caranya.
“ Maukah kau menunjukkannya padaku?”
Tidak sekarang, ini bukan waktu yang tepat untukmu. Mungkin akan lebih baik kalau kau warnai hidup dengan sesuatu yang buakn hitam.
“ Why not?”
Aku sudah katakan padamu tadi.
“ Ya…..itu menutupi sinarku. Benar kan? Sepertinya sekarang aku tahu bagaimana memancarkan sinarku, seperti aku dulu.”
Lanjutkan.
“ Aku boleh meminta satu warna? Sedikit saja….”
Ya, katakana saja.
“ Warna keemasan…kupikir itu bagus untukku. Terlihat sedikit berlebihan tapi menurutku cukup indah setelah sekiam lama aku berkutat hanya pada warna hitamku.’
Yeah…sebenarnya itu dulu warnamu. Kau lupa kan?
“ Aku tak ingat apa-apa.”
Warna keemasan dari dirimu memancar begitu indah. Aku sudah tak sabar ingin melihatnya lagi.
“ Baiklah. Tapi bantu aku menggoreskan warna itu dalamku.
Pasti. Tolong lakukan satu hal juga untukku.
“ Ya.”
Jangan lenyapkan warna hitam itu. Suatu saat itu akan membuatku lebih indah. Itu warnamu juga.
“ Tunggu. Warna hitamku juga bisa bersinar? Bukankah katamu itu hanya akan menutupi warna keemasanku?”
Tentu bisa, jika kau tahu bagaimana caranya.
“ Tunjukkan padaku.”
Tidak sekarang kau bahkan belum mulai bersinar.
“ Kalau aku sudah bersinar, maukah kau membantuku untuk itu?”
Mungkin. Kita lihat saja nanti. Yang harus kau lakukan sekarang adalah mengisi kembali hidupmu dengan warna baru yang kau pilih. Lakukan itu perlahan. Sangat perlahan. You will find it exciting, and an amazing handwork will shine.
” Kapan aku harus menambahkan warna hitam?”
Ikuti saja hatimu. Jika suatu saat waktu untuk hitam itu digoreskan dalam hidupmu tiba kau akan merasakan getaran dalam hatimu. Pastikan kau mendengarkannya baik-baik.
“ Lalu baru aku boleh melukis dengan warna hitam lagi.”
Tentu saja.
“ Aku tak pernah menyangka akan jadi seperti ini.”
Nikmati saja. Kau telah belajar beberapa hal.
“ Kau benar….kau selalu benar.”
Sekarang apa?
“ Memulai dengan sedikit warna emas di sisi yang sebelah sini. Ini yang paling hitam. Pekat. Aku dulu sehitam ini.”
Tak usah mengingat lagi. Terus saja goreskan warnamu.
“ Di sini lagi…lalu di sebelah sini….”
Perlahan saja. Sangat perlahan.
“ Ya…dan aku merasa lebih baik. Sedikit bersinar, seperti katamu.”
Sudah semestinya.
“ Apa sinar masih bisa terlihat?”
Kalau kau percaya.
: ”Hidup ini indah, ya. Banyak sekali waktuku terbuang, sepertinya.”
Tak usah mengingat-ingat lagi.
“Ya…..kau benar.”
Cuma ada dua hal besar dalam hidup ini:
Cinta dan Kematian
Kalau kita siap menghadapi keduanya, berarti kita siap menghadapi apa saja.
Dedicated merely for love of a lifetime : thanx to let me shining again!